Oleh Ilham Khoiri dan Ahmad Arif
Satu setengah jam berperahu dari Ropa, Kabupaten Ende, Gunung Rokatenda dengan kawah terbuka menghadap laut terlihat angker. Asap tipis menguar dari gunung itu, tengah hari di akhir Mei 2012.
Begitu sampai di Pelabuhan Uwa, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, tukang ojek motor langsung menjemput. Sepeda motor melaju melewati jalan menanjak terjal dan menikung-nikung.
Jarak 5 kilometer ditempuh hampir setengah jam. Kami pun tiba di Kampung Wolondopo, kampung terakhir di kaki Gunung Rokatenda. Sekitar pukul 15.00 Wita, kami mulai berjalan kaki menelusuri jalur setapak menuju puncak gunung.
Meski perjalanan menuju kawah Rokatenda hanya sejarak 3 km, namun pendakian ke gunung berketinggian 875 meter dari permukaan laut ini tidaklah mudah. Tubuh gunung yang nyaris kerucut sempurna, membuat perjalanan terus menanjak, nyaris tanpa bonus.
Senja mulai turun. Sinar mentari menguning, kami menyusuri perkebunan jambu mete. Pohon-pohon jambu mete menyembul di antara lebat tanaman singkong dan kacang hijau. ”Kami mengandalkan hidup dari kebun jambu mete. Panennya setiap kemarau, sekitar Oktober,” kata Robertus Enga (30), warga yang mewarisi kebun di kawasan itu. ”Untuk makan sehari-hari, warga mengandalkan ubi, jagung, dan kacang-kacangan. Tak ada tanaman padi.”
Di tanah lapang yang disesaki pohon kelapa, Maximus Musi (45), warga Wolontopo yang mengantar pendakian, tiba-tiba berhenti. Ia bergegas memanjat kelapa dengan cepat dan menjatuhkan beberapa butir ke tanah. ”Pesan orang-orang tua kita, sebelum naik Rokatenda harus merasakan air kelapa di sini,” katanya serius, sambil mengupas sabut kelapa.
Kami sulit membedakan apakah Maximus bercanda atau serius. Namun, air kelapa muda yang manis menyegarkan itu sayang untuk dilewatkan.
Sejenak istirahat sambil meneguk air kelapa, membuat tenaga yang mulai terkuras, kembali terisi. Perjalanan semakin mendaki. Kami menyibak lebat ilalang dan menyisir jalan setapak yang jarang dilintasi.
Tiga jam perjalanan, kami tiba di padang savana yang ditumbuhi beberapa anggrek hutan. Kubah Gunung Rokatenda terlihat gagah di depan.
Maximus memanjat batu yang menyerupai meja besar. Ia menaruh sebatang rokok dan satu bungkus biskuit kering di atas batu, lalu komat-kamit berucap doa. ”Kami harus minta izin kepada leluhur yang mendiami gunung ini,” katanya.
Matahari kian condong ke ufuk barat. Kami pun bergegas mendaki dinding gunung yang nyaris tegak. Dinding itu terlapisi leleran lava menyerupai aspal yang melapuk dan kerap runtuh saat diinjak. Sekitar pukul 17.00 Wita, kami tiba di tepi kawah Rokatenda pada ketinggian 819 meter dari permukaan laut.
Dari tepi kawah, Laut Flores terlihat teduh dan menawan, membiaskan langit senja. Angin berembus pelan.
Jejak kehancuran
Elok pemandangan berganti jeri ketika kami melongok ke kawah. Tiga lubang besar menganga, masing-masing menandai letusan besar yang pernah terjadi, tahun 1928, 1964, dan 1981. Batuan menghitam, gundul tanpa tanaman, bahkan rerumputan pun tiada.
Beberapa lubang mengepulkan asap. Bau belerang menyengat. ”Lubang yang itu baru saja muncul beberapa tahun lalu,” kata Tesen Pima (37), warga Pulau Palue, menunjuk kepulan asap tipis sekitar 500 meter dari kami.
Mentari merah di ufuk barat berangsur tenggelam di balik puncak Rokatenda. Asap tipis masih terus menguar dari beberapa titik lubang di kubah gunung. Perlahan langit jingga berubah kelabu. Laut Flores seakan ditelan gelap.
Kami turun gunung dalam gelap. Perjalanan malam hari di gunung memberi nuansa berbeda. Tiadanya pemandangan menawan yang bisa ditonton, membuat pikiran melayang.
Isi kepala dipenuhi bayangan kengerian saat gunung ini meletus pada 1 Januari 1981. Seperti dikisahkan Kepala Desa Lidi, Aloysus Landi Chinde, tiga kampung di Desa Lidi ludes dihajar lava, yaitu Kampung Ona, Hoja, dan Natahati. Suasananya seperti kiamat kecil.
”Udara panas, debu dimuntahkan dari gunung, dan aliran awan panas turun deras dari puncak. Tiga kampung di desa kami hangus terbakar, terkubur rata dengan tanah,” kata Aloysus.
Semua warga dari tiga kampung itu lari dan diungsikan ke Hewoli dan Waturia di Kecamatan Alok Barat, di dekat Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka di Pulau Flores. Hingga kini, sekitar 300 keluarga dari Kampung Ona dan Natahati masih tinggal di Hewoli.
Imaculata, yang kini menjadi Kepala Sekolah Dasar (SD) Ona, adalah salah satunya. Ia bersama keluarganya pindah dari Pulau Palue ke Ona tahun 1982, dan tak ingin lagi kembali ke kampung lamanya. ”Anak-anak sudah betah dan sekolah di sini. Terkadang kami menengok pulau itu,” kata Imaculata.
Bagi Imaculata, Pulau Palue sudah menjadi sejarah. Namun, tidak bagi sebagian besar warga Palue. Mayoritas warga yang diungsikan bersama Imaculata memilih kembali ke Pulau Palue. Mereka kembali menggarap lahan di pulau gunung api itu. Desa Lidi yang dulu terkubur, kembali dihuni 1.000 warga.
Bersama penduduk di tujuh desa lain di Pulau Palue, mereka mengambil risiko untuk hidup di pulau gunung api yang kerap meletus ini. Padahal, tak hanya ancaman letusan, ketiadaan sumber air tawar di pulau itu juga membuat hidup tak mudah di sana.
”Bagi kami, hidup di Palue tidaklah sulit. Kalau haus, tinggal panjat kelapa,” kata Maximus Musi, sebelum bersiap memanjat pohon kelapa.
”Silakan diminum kelapanya. Enak bukan?” kata Maximus, lima menit kemudian, dengan senyum ramah.
Malam itu, di bawah rimbunan pohon mete, kami menikmati air kelapa yang terasa begitu legit. Daging kelapa pun terasa gurih, mengobati lelah perjalanan.
Rembulan yang bersinar temaram menambah kedamaian suasana. Kami pun enggan beranjak turun gunung.
Di lereng Rokatenda, kami akhirnya memahami ucapan Petrus Fideli Cawa (70), tokoh adat Palue, tentang kecintaan warga pada pulau ini. (Samuel Oktora/Amir Sodikin)